Sabtu, 12 November 2011

KESETARAAN GENDER DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA


PENINGKATAN SDM PEREMPUAN

Hal Penting dan Menarik Mengenai Peran Gender adalah :
ü  Peran gender berubah dari waktu ke waktu
ü  Berbeda antara satu budaya dengan budaya lain
ü  Dipengaruhi oleh kelas sosial, usia dan latar belakang etnis.
ü  Berarti masalah gender selalu berkaitan dengan konstruksi sistem sosial budaya dalam masyarakat.
Apa itu Gender ?
v  Konsep gender tidak dapat dilihat dari perspektif perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan.
v  Namun hendaknya dilihat dalam perspektif sosial budaya
v  Berarti diperlukan peneguhan pemahaman yang proporsional dari masyarakat.
v  Konsep gender sangat berbeda dengan konsep seks (jenis kelamin).
v  Pemahaman dan pembedaan terhadap kedua konsep ini sangat diperlukan.
v  Khususnya dalam melakukan analisis terhadap persoalan beragam ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan
Dimensi-dimensi Kesetaraan Gender dalam Perspektif Sosial Budaya
- Dimensi partisipasi
-        Dimensi kontrol/kekuasaan
-        Dimensi kesadaran kritis
-        Dimensi aksesibilitas
Faktor Penghambat Kesetaraan Gender
-  Diskriminasi perempuan
-       Eksploiitasi perempuan
-       Subordinasi perempuan
-       Streotip pelabelan negatif
-       Kekerasan terhadap Perempuan
-       Beban tugas yang berat dan panjang
Pendekatan Pemberdayaan Perempuan (WID, WAD, GAD)
Kesetaraan Gender dalam Perspektif Peran Sosial Budaya
Lima Alasan Pokok Mengapa Kaum Perempuan Menggugat Konstruksi Sosial Budaya
Ø  Keyakinan masyarakat harus diretas yg menyatakan bhw identitas sosial jenis kelamin, bersifat kultural, bukan biologis.
Ø  Semakin berkembangnya gerakan pemberdayaan perempuan.
Ø  Berkembangnya kesadaran kritis perempuan.
Ø  Kaum perempuan berabad-abad lamanya dizalimi, bukan saja karena faktor konstruksi sosial budaya melainkan pula akibat kebijakan negara dan politik pembangunan nasional yang memposisikan perempuan dlm kedudukan yg timpang & subordinatif.
Ø  Semakin berkembangnya gerakan feminsime sebagai bentuk perjuangan membebaskan perempuan dari segala bentuk penindasan.
Realita Sosial Budaya Penghambat Kesetaraan Gender :
v  Diskriminasi Perempuan
v  Eksploitasi Perempuan
v  Subordinasi Perempuan
v  Stereotip Pelabelan Negatif
v  Kekerasan Terhadap Perempuan
v  Beban Kerja Lebih Berat & Panjang
Dimensi-dimensi Kesetaraan Gender :
Ø  Dimensi Partisipasi
Ø  Dimensi Kontrol
Ø  Dimensi Kesadaran Kritis
Ø  Dimensi Aksesibilitas
Hasil Penelitian (2007) Di Kota Makassar Mengungkapkan:
         Diskriminasi terhadap kaum perempuan dominan terjadi dlm jabatan struktural (47,22 %), kemudian menyusul di sektor ketenagakerjaan (21,21 %), selanjutnya hak-hak memperoleh pendapatan (19,20 %), dan terakhir diskriminasi di bidang pendidikan (12,37 %)
         Diskriminasi paling nyata terjadi di sektor ketenagakerjaan, khususnya dlm industri hiburan malam, meliputi Sales Promotion Girl (SPG) & Pekerja Seks Komersial (PSK). Mereka adalah mesin pencetak uang, tanpa jaminan kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja.
Diskriminasi dlm Jabatan Stuktural Disebabkan oleh 3 Faktor :
  1. Perempuan cenderung diposisikan pd pekerjaan yg kurang membutuhkan kompetensi tingkat tinggi.
  2. Mindset dan cara pandang laki-laki yang menganggap kepemimpinan hrs lebih mengutamakan laki-laki.
  3. Budaya patriatisme yang dikonstruksi sedemikian rupa yg memandang keberadaan laki-laki jauh lebih penting dibanding perempuan dlm menduduki jabatan
Eksploitasi Perempuan
Eksploitasi pengupahan juga terjadi pada pembantu rumah tangga dan pekerja pabrik, dengan bentuk al :
  1. Upah tdk dibayar tepat waktu.
  2. Upah lebih rendah dari UMP
  3. Upah dibayar tdk sesuai dg jasa kerja
  4. Upah tdk dapat meningkatkan  kesejahteraan.
Diskriminasi dalam struktur sosial budaya
v  Terjadi dlm bentuk pembatasan dan larangan untuk mengekang perempuan dg alasan-alasan moral.
v  Implikasinya juga ditemukan dlm produk hukum positif atau peraturan per undang-undangan yang bias gender, misalnya RUU. APP
Subordinasi Perempuan :
Bentuknya al :
«  Perempuan dibatasi karena alasan kodrat.
«  Mindset & cara pandang laki-laki.
«  Sistem nilai dlm masyarakat.
«  Pengkotakan peran menurut jenis kelamin.
Stereotip Pelabelan Negatif
²  Pembatasan orientasi ruang & waktu.
²  Pembatasan pengembangan karier.
²  Pembatasan independensi.
²  Penekanan pada tugas-tugas domestik.
Fakta Sosial Budaya :
«  Perempuan berstatus janda seringkali lebih mudah diberi label negatif dan laki-laki cenderung negative thinking.
«  Perempuan dianggap lebih rentan dg persoalan moral.
«  Independensi perempuan dibatasi, diawasi secara ketat, kecuali untuk urusan rumah tangga.
Kekerasan Terhadap Perempuan
²  Dianiaya suami
²  Tdk diberikan nafkah hidup
²  Diintimidasi
²  Diremehkan atau dilecehkan
Beban Kerja yg berat dan panjang
o        Rutinitas terhadap kewajiban 4 M
o        Tekanan ekonomi/mencari nafkah
o        Sikap patuh & pasrah
o        Tanggung jawab penuh dalam rumah tangga.
Bentuk-bentuk Partisipasi Perempuan yg Diharuskan
²  Pengambilan keputusan dalam perencanaan & implementasi Pembangunan.
²  Pengambilan keputusan peningkatan akses sumber daya.
²  Pengambilan keputusan pemecahan masalah-masalah sosial.
²  Pengambilan keputuisan di bidang ketenagakerjaan.
²  Pembinaan & tanggung jawab keluarga
Bentuk-bentuk Kontrol yang Diharuskan
²  Dominasi kepemimpinan laki-laki
²  Keputusan yang merugikan kaum perempuan
²  Diskriminasi struktural dalam jabatan eksekutif
²  Subordinasi kaum laki-laki
²  Diskriminasi pengembangan karier
Kesadaran Kritis Perempuan Untuk Melawan Realita Bias Gender
²  Perubahan pandangan masy dlm membandingkan status laki-laki & perempuan.
²  Urgensi peningkatan pendidikan.
²  Perbedaan perlakuan untuk memperoleh pendidikan
²  Kesenjangan pendidikan
²  Peningkatan minat baca.
Bentuk-bentuk Aksesibilitas Perempuan yang Cenderung Bias Gender
ª  Kesempatan memperoleh penghasilan
ª  Pembatasan peran sosial dlm masyarakat.
ª  Kesetaraan peran sosial budaya
ª  Pemberdayaan potensi kaum perempuan.
ª  Pandangan masy terhadap karier.
Saya kan Wakil Rakyat
Saya kan Profesional
Saya mewakili kaum perempuan
Apa manfaat saya ??
Kalau    Lebah menghasilkan madu
▬ Sapi menghasilkan susu
▬ Ayam menghasilkan telur

Saya menghasilkan apa dong !
Kesimpulan
ª  Realita sosial budaya kaum perempuan di Kota Makassar yg sarat dengan bias gender mencakup seluruh dimensi kehidupan, dan penyebab utamanya bersumber dari nilai-nilai primordial yg masih tertanam kuat dlm masy. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan dan sangat merugikan kaum perempuan,
ª  Konstruksi sistem sosial budaya dlm masy juga sangat memudahkan terjadinya diskriminasi, subordinasi, eksploitasi, pelabelan negatif dan menambah beban kerja yang lebih berat dan panjang bagi kaum perempuan.
ª  Perjuangan untuk mewujudkan kemitrasejajaran masih diperhadapkan pada kendala-kendala budaya, ekonomi dan politik. Akibatnya perempuan secara struktural masih tetap berposisi pinggiran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar